Rabu, 09 Oktober 2013

We Are "Psycho Ranger" Team

taraaaaaa ... Nah ini dia tim Psycho Rangger



          Maaf sebelumnya kalo kami baru perkenalan, karena ada hal-hal yang agaknya susah untuk dijelaskan #apasih. Kami terdiri dari 7 orang, (Aci, Dora, Fadhli, Shilvi, Keket, Milda, dan Aam) kami terbentuk karena sebuah tugas Perkembangan Anak yang diampu oleh Bu Unita dan Bu Ari.
     Selain membuat artikel tentang perkembangan anak, kali ini kami juga melakukan observasi dan wawancara dengan seorang anak yang menderita gangguan kesulitan membaca dan menulis, atau yang sering disebut dengan Disleksia.

terus ikuti post blog dari kami,,, happy reading :) 

Uang dan Buah Hati


Oleh: Fadhlillah Ghali Farand
115120301111008

PENGENALAN UANG UNTUK BUAH HATI J


Di zaman sekarang yang segala sesuatunya memerlukan uang untuk mendapatkannya, sangat mustahil rasanya apabila anak di usia dini tidak mengerti masalah “UANG”. Namun sayangnya setiap anak hanya tahu bahwa orang tua selalu mempunyai uang untuk membeli segala sesuatu yang ingin dibeli, namun ada tiga hal yang tentu anak belum tahu pastu  yaitu tidak tahu bahwa uang itu didapat dengan usaha dan kerja keras, lalu tidak tahu berapa besar nominal setiap uang yang ada, dan tentu anak belum tau bagaimana penggunaan uang dengan baik dan bijaksana
Nah disinilah peran orang tua sangat besar dalam memberikan pelajaran tentang uang kepada anak sejak dini, ini cukup penting karena masalah uang pun akan selalu berkaitan erat dengan manusia. Emm memang, nampaknya sangat matrealistis apabila masalah uang sangat diperdebatkan, namun tidak ada salahnya apabila anak juga tahu bagaimana sih penggunaan uang itu dengan sebaik mungkin, untuk menghindari perilaku anak yang kurang baik dikemudian hari.
Pertama, orang tua harus tega apabila sang anak minta ini itu tanpa alasan jelas dan sesuatu yang diminta memang tidak terlalu penting untuk dibeli, yaa pengertian kepada anak menjadi senjata utama para orang tua dalam pemberitahuan makna uang sesungguhnya. Komunikasi yang baik juga dibutuhkan sekali dalam membesarkan anak. Tapi sebuah pengertian tidak bisa dilontarkan langsung kepada anak tanpa sebuah bukti kongkrit, sehingga diawal pembelajaran orang tua masih bisa membelikan segala sesuatu yang diinginkan anak tanpa berlebihan, agar dikemudian hari bisa menjadi sebuah pelajaran kepada anak.
Dalam teori perkembangan moral yang dikemukan oleh Kohlberg, masa anak mereka menggunakan tahapan pra-konvensional dimana tahap ini terbagi menjadi dua lagi yaitu orientasi kepatuhan dan orientasi minat. Seorang anak akan patuh terhadap instruksi orang tua apabila memang ada sesuatu yang dia anggap sebagai perintah atau larangan keras. Dan pastinya dia akan meminta sesuatu ya sesuai dengan minatnya, anak laki-laki suka main mobil-mobilan dan yang yang perempuan suka bermain boneka, ya seperti itulah.
Contoh konkrit nya seperti ini, semisal sang meminta uang jajan untuk membeli makanan ringan, lalu besoknya sang anak sakit batuk karena makan terlalu banyak, selanjutnya beri pengertian bahwa makanan yang ia inginkan tidak selalu baik untuknya. Dengan bukti itu dan sebuah pengertian tadi, orientasi kepada sebuah kepatuhan akan membuatnya mengerti bahwa segala sesuatu memang tidak dibeli berlebihan, secukupnya dan seperlunya saja.
Pelajaran ini membuat sang anak mengerti bagaimana mengalokasikan sebuah uang, dan penggunaan uang dengan bijaksana.
            Kedua, apabila sang anak meminta uang jajan untuk membeli sesuatu ajarkanlah, untuk tidak langsung memberi nya tanpa ada usaha, berikan sang anak pelatihan. Semisal ia harus membereskan mainan yang berantakan, setelah ia menyelesaikan tugasnya berilah imbalan yang sesuai dan yang diinginkan sang anak, agar sang anak memaknai setiap uang atau hadiah yang diberikan kepada kita memang harus menempuh usaha, tidak begitu saja datang. Sehingga nantinya anak akan lebih menghargai uang tersebut.
Disini anak tentu akan mengerti bahwa uang yang ia dapatkan juga didapat orang tua melalu usaha dan kerja keras sehingga tidak bisa digunakan seenaknya saja tanpa pertimbangan-pertimbangan.
            Ketiga, sebisa mungkin para orang tua menjelaskan bahwasanya setiap uang itu memiliki nominal atau nilai yang berbeda-beda, tidak bisa disamakan dan akan beda juga penggunaannya. Ketika si anak meminta untuk dibelikan ini itu, padahal tidak tahu bahwa yang ia minta mungkin harga nya cukup mahal untuk barang yang sebenarnya tidak terlalu penting untuk dimiliki atau memiliki fungsi yang sama sekali sangat kurang bermanfaat bagi tumbuh kembang anak, nah untuk hal ini tidak ada salahnya orang tua member tahu bahwa barang yang ia minta itu mahal, atau membutuhkan uang yang cukup banyak.
Usuhakan pendirian kuat untuk tidak membelikan sesuatu yang diminta anak dengan harga tinggi untuk usianya, agar anak mengerti bahwa barang atau sesuatu yang ia minta itu memang mahal dan bisa tidak usah dibeli, karena ada banyak keperluan lain untuk dibeli.
            Semua yang dilakukan orang tua ini memang awalnya akan berat dirasakan, namun kedepannya hasilnya anak benar-benar paham masalah uang, nilai setiap uang, penggunaan yang bijak, dan selalu memberikan pengahrgaan untuk setiap usaha yang menghasilkan uang.
Pertama-tama mungkin anak akan terus merengek atau bahkan menangis, namun para orang tua harus kuat untuk hal ini, jangan mengalah dengan alas an malu dan tidak tahan, karena inilah proses dalam mendidik anak. Namun setelah terbiasa, semua kan menjadi mudah dan enak, sehingga tidak ada pihak yang diberatkan lagi baik diposisi anak yang sudah mengerti masalah uang dan orang tua dalam hal memberikan pengertian.
            Nah itulah sedikit ulasan yang bisa saya berikan, ulasan diatas bersumber dari bahan bacaan online tentang anak dan pengalaman kakak saya yang memiliki anak usia 4 tahun yang sudah sangat paham masalah uang, dan mengalami kasus seperti ulasan diatas.
Terimakasih,, dan tunggu artikel saya selanjutnya hahahaaaa.
Komen saja bila ada yang perlu diperbaiki :D

Fadhli


Senin, 07 Oktober 2013

Mendidik Si Tunggal

Mendidik Si Tunggal
            Saya memang belum mempunyai pengalaman bagaimana cara mengasuh anak yang baik, karena memang saya belum menikah dan memiliki anak. Hehehe.. J Maka dari itu, disini saya tidak bermaksud untuk menggurui atau mengajari siapa pun. Saya hanya mencoba mengutarakan pendapat yang saya miliki, ditambahkan dengan beberapa pengetahuan tentang topik yang akan kita bahas ini. Selamat menikmati J
             Pasti kita semua sudah tidak asing lagi dengan ungkapan kalau anak tunggal itu manja, egois, banyak menuntut, sulit berbagi, sulit diajak bekerja sama, ingin selalu dilayani, dan lain sebagainya. Itulah stereotip yang berkembang di masyarakat mengenai anak tunggal. Padahal menurut saya tidak semua anak tunggal seperti itu. Semua tergantung bagaimana pengasuhan orang tua dan juga lingkungan sekitar tentunya. Dalam hal ini, saya akan lebih fokus kepada pengasuhan orang tua kepada anak tunggal.
            Orang tua yang memiliki anak tunggal dan cenderung memanjakannya mungkin mempunyai maksud ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya dan tidak ingin hal yang buruk terjadi pada anaknya, sehingga mereka mencurahkan semua kasih sayang yang ada kepada anaknya karena ialah harapan satu-satunya di keluarga. Memang wajar apabila orang tua mempunyai maksud seperti itu, karena memang seperti itulah seharusnya orang tua. Namun terkadang sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Termasuk memberi perhatian yang berlebih kepada anak, bahkan cenderung overprotektif. Ada saatnya orang tua yang memiliki anak tunggal memberikan kesempatan kepada anaknya untuk berkembang menjadi anak yang lebih mandiri. Apabila pada saat masa kecilnya ia selalu berhasil mendapatkan apa yang ia inginkan tanpa usaha yang lebih (kehendaknya selalu dituruti oleh orang tua), selalu mendapat pertolongan sehingga tidak pernah merasa kesusahan, maka nantinya ia tersebut akan tumbuh menjadi anak yang egois atau mementingkan dirinya sendiri dan kurang mempunyai rasa tanggung jawab.
            Sikap overprotektif dalam mendidik anak tunggal dapat menghambat anak dalam proses pembentukan identitas diri nantinya. Hal itu disebabkan karena ia tidak memiliki kesempatan untuk mengeksplorasi dirinya dan lingkungan sekitarnya. Ia tidak memiliki kesempatan untuk bersosialisasi dengan teman sebayanya, padahal masa kanak-kanak merupakan masa prakelompok dimana dasar-dasar sosialisasi mulai diletakkan dan pada keadaan normal hubungannya akan meningkat dari tahun ke tahun. Selain itu, sikap overprotektif orang tua akan membuat anak tidak mempunyai rasa percaya diri atau minder dan tidak mempunyai jiwa sosial yang baik. Orang tua seharusnya justru memberi kebebasan kepada anak tunggal untuk bersosialisasi, berkreasi dengan lingkungan sekitar namun tetap dengan batasan-batasan yang wajar dan penuh tanggung jawab.
            Sebagai orang tua, seharusnya menyadari bahwa waktu akan terus berputar, begitu pula dengan anaknya yang lama-kelamaan akan tumbuh menjadi orang dewasa yang akan mempunyai kehidupan sendiri nantinya. Dalam artian, tidak selamanya anak akan hidup dan bergantung kepada orang tua. Oleh karena itu, orang tua harus memanfaatkan masa kanak-kanak dengan sebaik-baiknya. Jangan biarkan anak tumbuh dalam lingkungan keluarga yang memanjakannya, walaupun itu anak tunggal sekalipun. Dengan pengasuhan yang baik, seperti memberi anak kesempatan untuk lebih mandiri; melatih anak untuk percaya pada kemampuan dirinya sendiri; memberi kebebasan anak untuk bersosialisasi dengan teman sebaya; serta adanya komunikasi yang baik antara orang tua dengan anak, maka anak tunggal yang pada umumnya dicap negatif bukan tidak mungkin akan memiliki sifat-sifat positif yang bisa bermanfaat bagi dirinya sendiri maupun orang lain.

            Sekian yang dapat saya sampaikan. Semoga dapat memberikan manfaat bagi kalian yang membaca J Seperti yang lainnya, saya hanyalah manusia biasa yang tak luput dari kesalahan. Maka dari itu, kritik dan saran sangat dibutuhkan untuk diri saya yang lebih baik J ありがとう ございます


ASRI FAUZIYAH H.
115120300111006/19
PSIKOLOGI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

Jumat, 04 Oktober 2013

Karakter si Anak

By : Fadhlillah Ghali Farand

115120301111008

Psikologi UB 2011


KARAKTER ANAK DENGAN  POLA ASUH OTARITATIF DAN DIMANJA


jangan khawatir bila anak tidak mau mendengarkan anda, tapi khawatirlah bahwa anak selalu mengamati anda” – Robert Fulghum

Orang tua mana yang tidak ingin masa depan sang anak bahagia dan sukses, namun semua itu butuh proses panjang, termasuk proses membesarkan sang anak dengan pola asuh yang dipakai masing-masing orang tua.
Peribahasa yang mengatakan “buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya” bisa menjadi pelajaran buat masing-masing diri kita. Yang berarti bahwa kepribadian sang anak bisa jadi cerminan perilaku dan ajaran orang tua beserta pengaruh lingkungannya.
Anak merupakan masa perkembangan manusia yang paling menyenangkan baik bagi orang tua maupun anak itu sendiri. Dimana semua tingkah laku dan perkataan yang keluar merupakan hal terjujur yang akan dirasakan oleh orang tua dan orang-orang disekeliling anak tersebut, semuanya nampak natural dan tidak dibuat-buat. Dan akan menjadi barang tentu setiap anak akan membuat gemas orang disekitarnya.
            Tingkah laku seorang anak yang begitu polos tadi bisa jadi dan biasanya merupakan cerminan dari perbuatan dan perkataan lingkungan pertama yang membentuknya yaitu keluarga. Semua yang anak lihat akan menjadi percontohannya dimasa depan, karena dimasa ini anak-anak memiliki sifat imitasi atau sedang dalam tahap peniruan orang dilingkungannya.
Tidak hanya meniru perbuatan dan perkataan yang dilayangkan keluarga terutama orang tua, melainkan pola asuh orang tua yang merawat anak ini juga sangat berpengaruh besar terhadap pribadi yang akan muncul pada anak.
Dalam psikologi perkembangan dikemukaan ada empat macam cara orang tua mengasuh anaknya yaitu Authoritarian (otoritarian/memaksa), Authoritative (Otoritatif/bebas dan bertanggung jawab), Neglecful (Acuh) dan Indulgent (Memanjakan).
            Keempat tahap itu memang sudah sangat sering dibahas, sehingga kali ini saya tidak akan membahas keempat pola asuh itu, saya hanya akan membahas pengaruh pola asuh Otoritatif dan Indulgent terhadap karakter anak, dimana pola inilah yang sangat sering dipakai oleh orang tua yang memang perhatian terhadap tumbuh kembang sang anak.
            Bagi mereka yang baru saja memiliki anak (anak pertama) pasti akan sangan protect dan memanjakan anak, dengan berbagai cara pasti mereka lakukan demi kebahagian buah hati, namun bagi orang tua yang memiliki sifat ini “mengusahakan segala cara demi kebahagian anak” harus berhati-hati karena sadar atau tidak, sifat ini sudah membentuk diri orang tua mendidik anak dengan pola asuh memanjakan, pola asuh ini menurut saya bukan termasuk pola asuh yang buruk namun nampaknya akan sangat kurang bijaksana apabila pola asuh ini diterapkan sepenuhnya untuk sang anak tanpa pertimbangan, karena akan berpengaruh ke kehidupan anak selanjutnya. Ya! Sang anak bisa menjadi memiliki kesulitan dalam membina hubungan baik dengan teman sebaya nya karena ia merasa “utama”, dominan, dan sangat egosentrisme (berpikir menurut sudut pandangnya saja). Sebenarnya sifat dominan bisa menjadi suatu kelebihan bagi sang anak bila ia bisa menggunakannya dengan bijak, yaitu tumbuh sifat-sifat leadership atau pemimpin dalam kelompoknya. Sehingga menjadi tugas besar para orang tua yang menggunakan pola asuh memanjakan anak, yaitu membuat sang anak menggunaka karakter yang sudah mulai terbentuk dengan baik.
            Tidak ada salahnya orang tua, memakai satu pola asuh lagi yaitu otoritatif. Sebuah pola asuh yang dinilai sebagai pola asuh terbaik dari keempat pola asuh yang ada. Sehingga pola asuh ini bisa dijadikan pola asuh utama untuk sang anak, karena karakter yang akan terbentuk dari pola asuh membebaskan anak namun dengan penuh tanggung jawab ini adalah pribadi yang ceria, pengendalian diri yang baik, berorientasi pada prestasi, ramah, bisa bekerja sama, dan mampu memecahkan masalah tanpa harus stres berat. Karena pola asuh ini memberikan kesempatan pada anak untuk memilih segala sesuatunya sendiri atau sering disebut mandiri, namun disini orang tua atau pengasuh selalu mendukung dan memberikan arahan di awal. Ini juga dirasa hal yang sangat dibutuhkan anak. Kemandirian akan muncul dengan sendirinya karena orang tua mendukung.
            Ulasan diatas dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa gabungan pola asuh yaitu otoritatif dan memanjakan bisa menjadi alternatif para orang tua dalam mengasuh anak, agar karekter sang anak pun menjadi baik seperti harapan kebanyakan orang. Disini anak akan merasa nyaman tanpa harus orang tua khawatir dengan tumbuh kembang anak.
Karena dengan pola asuh otoritatif sang anak tidak merasa tertekan hingga ia bisa selalu ceria layaknya anak-anak seusianya, menjadi sosok mandiri yang bertanggung jawab. Nah dengan tambahan pola asuh memanjakan sang anak bisa menjadi dominan dalam kelompok, disini berarti ada bibit-bibit kepemimpinan dalam diri sang anak dengan bantuan dan arahan orang tua yang baik, dengan pola ini orang tua pun bisa sangat dekat dengan anaknya karena bisa mengikuti perkembangan sang anak dan membuat orang tua tidak khawatir karena bisa selalu menjaga buah hati.
Catatan penting, orang tua juga harus memiliki pengetahuan yang cukup dalam mendidik sang anak, agar karakter sang anak terbentuk dengan baik J



@FadhliFarand 

Kamis, 03 Oktober 2013

Obesitas Anak



 Obesitas pada Masa Anak-anak


Pada masa anak-anak terjadi perkembangan yang sangat pesat, baik perkembangan fisik maupun kognitifnya. Tetapi yang hendak disorot disini adalah perkembangan fisik anak, perkembangannya jauh lebih cepat daripada ketika sudah memasuki masa remaja. Apabila pola makan anak tidak teratur (memakan makanan yang berlemak, makan tidak sesuai jam ideal makan, dan makan dengan tidak sewajarnya/“rakus”) dapat menyebabkan obesitas. Obesitas sesungguhnya nanti  akan menjadi masalah, bukan hanya pada kesehatan, melainkan psikologis anak juga, karena apa??? Mari kita simak berikut ini.

Perkembangan anak sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal, yaitu lingkungannya. Masa anak-anak merupakan masa dimana anak sangat aktif dalam hal motorik. Mereka sering tergabung kedalam kelompok kecil dan melakukan aktivitas motorik. Obesitas sangat menggangu karena kelebihan berat badan membuat anak susah untuk melakukan aktivitas motorik, seperti kejar-kejaran, bermain bola, lompat dan lain sebagainya. Akibatnya si anak tidak diajak bermain oleh teman-temannya karena ia tidak dapat melakukannya. Dengan perkataan yang lebih kasar, si anak tidak diterima dalam lingkungan sosialnya. Si anak akan merasakan kesendirian. Anak juga akan melihat mengapa dirinya berbeda dengan teman-teman sebayanya, karena pada umumnya anak-anak tidak mengalami obesitas, obesitas sering terjadi pada usia dewasa.

Hal ini yang sebenarnya kurang disadari oleh orang tua. Orang tua justru membiarkan anaknya bertambah gendut, tidak menjaga pola makannya. Tentu hal tersebut sangat berpengaruh pada psikologis anak. Anak akan tertekan dengan apa yang dihadapinya, melihat lingkungan tidak menerimanya dan melihat dirinya berbeda. Terganggunya psikologis anak akan menyebabkan gangguan dalam perkembangannya, ia tak mampu melewati tugas-tugas perkembangan pada tahap tersebut. Dan perlu diketahui juga bahwa pengalaman masa anak-anak sangat penting dalam perkembangan kepribadiannya. Trauma yang terjadi padanya adalah pengalaman yang sulit dihapus dari ingatannya. Maka dapat kita lihat bahwa perkembangan fisik memungkinkan anak untuk dapat mengembangkan keterampilan fisiknya dan dengan begitu ia juga dapat bereksplorasi terhadap lingkungannya. Ternyata citra tubuh bagi anak sangat berperan penting bagi perkembangannya.


oleh: Dora Ratna P./115120301111006